Rabu, 29 Agustus 2007

KAMPANYE PEMBODOHAN “ORANG-ORANG LAMA”

Kehidupan Bagsa Indonesia sejak reformasi bergulir tidak kunjung membaik karena pemerintahan sekarang ini banyak didominasi “orang-orang lama”. Hampir semua pembesar (baca: orang yang membesarkan badannya) partai politik yang ada adalah sisa-sisa orde baru atau paling tidak pernah bekerja pada orde baru. Partai Golkar, PPP,PDIP,PKB,Partai Demokrat, PBB, dan partai gurem lainnya (Meskipun ada juga musuh orde baru, yang aneh bin ajaib, sekarang malah masuk partai-partai tersebut). Maka tidak heran kalau dalam setiap momen suksesi, pola komunikasi dengan masyrakatnya (baca kampanye) cenderung membodohi masyarakat. Pola komunikasi pembodohan ini dapat ditelusuri dari 3 hal:

Yang pertama, adalah pola komunikasi jargon kampanye yang tidak mendidik. Kita tentu masih ingat awal pemilu 2004 muncul jargon seperti “Ayo Coblos moncong Putih”. Jargon seperti ini adalah pembodohan karena berusaha membujuk masyarakat dengan persuasi psikologis (menggerakan minat orang beradasrkan fanatisme buta) tanpa mendidik masyarakat visi dan misi partai atau calon yang bersangkutan. Fenomena ini juga ditemukan pada pilkada DKI dengan slogannya “Kuserahkan Jakarta pada Fauzi Bowo”. Sejak kapan Jakarta dimiliki oleh foto orang dalam iklan tersebut? Demikian juga dalam Slogan “Jakarta untuk Semua” yang berusaha mengartikulasi bahwa pasangan pemilik slogan tersebut didukung dan bekerja untuk semua golongan. Padahal lacur, dalam debat kampanyenya di SCTV tim Kampanye pemilik slogan “Jakarta untuk semua” sudah mengisyartakan sikapnya ketika menyerang lawannya dengan mengatakan “Buat apa mencalonkan kalau hanya seorang diri, karena program tidak akan berjalan bila tidak didukung oleh mayoritas fraksi lainnya?” Penyataan ini menunjukkan andaikata calonnya tidak terpilih, mereka akan memboikot pemerintahan DKI. Ya, itulah resikonya memiliki penguasa “orang lama”

Yang kedua adalah Perryataan dialogis yang dikembangkan orang lama juga berusaha menempatkan masyarakat sebagai pihak yang berpikiran sederhana (baca lugu dan bodoh). Dalam pemilihan Presiden pada 2004 yang lalu ketika banyak pemimpin umat islam memberikan fatwa haram memilih presiden wanita karena masih ada yang laki-laki yang mampu, sang calon wakil presiden dari calon presiden wanita (calon wakil presidennya laki-laki, dipandang sebagai ulama lagi) di madura mengatakan “Kalo tidak boleh memilih presiden wanita ya coblos saja saya.” Di sini kita tidak mengatakan boleh atau tidaknya presiden wanita, tetapi melihat makna pernyaataan tersebut bahwa calon wakil presiden menganggap pendukungnya berpikiran sederhana karena tidak mengetahui bahwa memilih dia (calon wakil presiden) adalah sama dengan memilih calon presiden wanitanya. Hal yang sama juga dilontarkan oleh Megawati terkait Pilkada DKI. Mega mengatakan kepada masyarakat untuk memberikan kesempatan pada sipil memimpin Jakarta karena selama ini Jakarta dipimpin militer. Di sini ketua umum PDIP tersebut tidak mendidik masyarakat. Padahal selama ini yang memimpin Jakarta yang dia katakan militer itu juga dukungannya tapi kenapa sekarang kok seolah mega sudah bosan dengan militer? Wacana dialogis yang tidak mendidik ini juga kelihatan dalam debat calon Guberur DKI di SCTV dimana tim kampanye salah satu calon banyak menyitir ayat al Qur’an (QS. Ibrahim:7). Dia hendak membuat kesan seolah dia bertindak demi umat islam, padahal konteks makna ayat tersebut tidak nyambung dengan bahan kampanyenya.

Ketiga, adalah banyaknya serangan oleh “orang-orang lama” baik serangan dalam bentuk black campaign mapun serangan fajar pada masa tenang kampanye baik Pileg, Pilpres, dan Pilkada. Black Campaign ditujukan untuk membodohi masyarakat dengan informasi-informasi yang salah sedangakan money politic merupakan penistaan karena menganggap seolah-olah pikiran masyarakat kita picik, semuanya hanya tentang uang.

Ketiga pola kampanye yang membodohi masyarakat tersebut seharusnya diganti dengaan kampanye yang mendidik masyarakat sehingga masyarakat mampu memberikat kontribusinya dengan tepat terhadap bagsa ini.

WASPADAI WESTERNISASI

Westernisasi sudah mendominasi bagsa Indonesia. Dengan kedok modrenitasi ia telah mencengkaram kehidupan masyarakatnya. Bahkan, ketika bagsa ini sedang diliputi banyak permasalahannya tidak sedikit kaum intelektualnya menebar wacana kebarat-baratan untuk menyelesaikan berbagai persolan bangsa ini.

Wacana membebek barat, salah satunya kentara dalam pendekatan wacana Daoed Joesoef, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III 1978-1983 itu mengembangkan wacana yang menunjukan ketidak arifanya dalam menyikapi masalah bangsa ini. Ia menilai salah satu masalah bangsa yang mayoritas penduduknya muslim ini adalah integritas. Integrisme bisa mereduksi ilmu pengetahuan karena hanya akan menghasilkan nilai pseudo ilmiah belaka yang disebutnya sebagai religio vera (Kompas, 15/08/2007) Ia menganalisis akar kekerasan di timur tengah sebagai akibat nilai integritas agama dengan kehidupan bernegara yang gagal. Doed tampaknya berfikir dangkal. Dia menuduh persolan timur tengah muncul karena sikap pan arabisme. Dia tidak melihat persoalan ini secara holistik. Padahal masalah timur tengah adalah reaksi yang muncul karena ketidak adilan sistem yang dipaksakan oleh negara lain (baca barat). Lihat saja masalah Palestina, logika mana yang membenarkan ketika Amerika mengusulkan pemilu demokratis, kemudian dilaksanakan dan Hamas memenagkannya, Amerika malah memboikot Hamas sebagai pemenang yang sah dalam pemerintahan Palestina. Tampaknya Daoed, di sini telah melacurkan wacanannya dengan mengekor konsep barat yang hanya bertumpu pada ilmu pengathuan saja.

Wacana membebek barat sebagai kepanjangan westernisasi juga terlihat dari catatan CWGI (CEDAW Working Group Initiative), sebuah ornop yang mengawasi Kesetaraan gender di Indonesia. CWGI menilai masih banyak terjadi pelanggaran hak asasi perempuan di Indonesia. Salah satunya, adalah banyaknya perda syariat (Kompas, 27/08) yang mewajibkan muslimah menutup auratnya. Logika sipa yang membenarkan, menutup aurat merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan tetapi memaksa mereka telanjang (dengan melarang perda syariat—penutupan aurat muslimah) merupakan bentuk pembelaan terhadap perempuan. Mengapa ini terjadi? Tidak lain karena Indonesia telah meratifikasi Konvensi Penghapusan segala bentuk deskriminasi Prempuan PBB. Maklum organ induknya adalah masyarakat yang suka telanjang.he.he..he

Lihat juga masalah terpuruknya dunia pendidikan, wacana yang dikembangkan adalah pendidikan yang andradogi tetapi mengacu sistem barat. Namun apa daya, model ini hanya menghasilkan keterampilan belajar saja tanpa memiliki nilai utuh kemanusiaan. Kurang maju apa dunia pendidikan barat, tapi ternyata dekandensi moral masyarakatnya luar biasa:pelacuran, sex bebas, narkoba, miras de el el ada dimana-mana.

Sikap yang sama juga terjadi dalam bidang kesehatan. Para ahli medis (dokter, dkk) amat gencar mengkampayekan vaksin. Ketika banyak masyarakat yang sudah tahu bahaya vaksin dan menawari dokter obat alternatif yang aman selalau jawabannya adalah itu melanggar kode etik profesi (padahal banyak juga sales perusahaan farmasi yang memberi iming-iming dokter mobil atau rumah untuk meresepkan produknya lho). Ya maklum saja, para dokter lebih takut kode etik profesinya yang diadopsi dari barat dari pada kesehatan manusia (pasienya).

Masih banyak sikap-sikap westernisasi lainnya yang telah salah kaprah diambil oleh kaum intelektual indonesia. Mereka langsung mengambil dan take for granted segala ilmu pengetahuan yang berkembang di barat. Tapi apa lacur, barat sendiri banyak kebohongannya sebagaimana bohongnya penyokong terori darwin tentang asal usul manusia. Untuk itu masyarakat Indonesia harus hati-hati dan berusaha belajar mandiri. Modernitas tidak harus berarti westernisasi.

Senin, 23 Juli 2007

SENANDUNG CINTA QUR’AN
(Sun’an)

Hamba Allah dengarlah…
Tahukan engkau aku diturukan Rabbmu untuk siapa?
Aku tlah diturunkan untuk rahmat selruh alam
untuk mencintaimu yang mencintai aku
yang mau mengenal aku,
yang mau mempelajari aku,
yang menjadikan aku sebagai kompas hidupmu
yang mengajarkan alam tentang diriku.

Bila kau baca diriku
kan ku beri kau cahaya dalam tidur panjangmu
bila kau tadaburi aku
kan ku lapangkan hatimu
bila kau turut petunjukku
kan kuusir musuh abadimu
yang menjerumuskanmu ke dalam jahannam
semua dengan izin Rabbmu

Hamba Allah dengarlah….
Rabbmu memintaku untuk mencintaimu
tetapi kau malah menjauhi aku
kau telah membuatku cemburu

Aku cemburu pada suamimu,
pada istrimu, anak-anakmu,
orang tuamu, perniagannmu,
dan kesibukanmu
bila palingkan dirimu dan mereka sendiri dari diriku

Hamba Allah…
meski demikian,
aku tetap mengasihimu
aku menantimu
sambut seruanku
sebelum Izrail menjemputmu.

Bogor, kos kosan, 21 Des 2006
Pkl. 10.00 Wib.