Westernisasi sudah mendominasi bagsa Indonesia. Dengan kedok modrenitasi ia telah mencengkaram kehidupan masyarakatnya. Bahkan, ketika bagsa ini sedang diliputi banyak permasalahannya tidak sedikit kaum intelektualnya menebar wacana kebarat-baratan untuk menyelesaikan berbagai persolan bangsa ini.
Wacana membebek barat, salah satunya kentara dalam pendekatan wacana Daoed Joesoef, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III 1978-1983 itu mengembangkan wacana yang menunjukan ketidak arifanya dalam menyikapi masalah bangsa ini. Ia menilai salah satu masalah bangsa yang mayoritas penduduknya muslim ini adalah integritas. Integrisme bisa mereduksi ilmu pengetahuan karena hanya akan menghasilkan nilai pseudo ilmiah belaka yang disebutnya sebagai religio vera (Kompas, 15/08/2007) Ia menganalisis akar kekerasan di timur tengah sebagai akibat nilai integritas agama dengan kehidupan bernegara yang gagal. Doed tampaknya berfikir dangkal. Dia menuduh persolan timur tengah muncul karena sikap pan arabisme. Dia tidak melihat persoalan ini secara holistik. Padahal masalah timur tengah adalah reaksi yang muncul karena ketidak adilan sistem yang dipaksakan oleh negara lain (baca barat). Lihat saja masalah Palestina, logika mana yang membenarkan ketika Amerika mengusulkan pemilu demokratis, kemudian dilaksanakan dan Hamas memenagkannya, Amerika malah memboikot Hamas sebagai pemenang yang sah dalam pemerintahan Palestina. Tampaknya Daoed, di sini telah melacurkan wacanannya dengan mengekor konsep barat yang hanya bertumpu pada ilmu pengathuan saja.
Wacana membebek barat sebagai kepanjangan westernisasi juga terlihat dari catatan CWGI (CEDAW Working Group Initiative), sebuah ornop yang mengawasi Kesetaraan gender di Indonesia. CWGI menilai masih banyak terjadi pelanggaran hak asasi perempuan di Indonesia. Salah satunya, adalah banyaknya perda syariat (Kompas, 27/08) yang mewajibkan muslimah menutup auratnya. Logika sipa yang membenarkan, menutup aurat merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan tetapi memaksa mereka telanjang (dengan melarang perda syariat—penutupan aurat muslimah) merupakan bentuk pembelaan terhadap perempuan. Mengapa ini terjadi? Tidak lain karena Indonesia telah meratifikasi Konvensi Penghapusan segala bentuk deskriminasi Prempuan PBB. Maklum organ induknya adalah masyarakat yang suka telanjang.he.he..he
Lihat juga masalah terpuruknya dunia pendidikan, wacana yang dikembangkan adalah pendidikan yang andradogi tetapi mengacu sistem barat. Namun apa daya, model ini hanya menghasilkan keterampilan belajar saja tanpa memiliki nilai utuh kemanusiaan. Kurang maju apa dunia pendidikan barat, tapi ternyata dekandensi moral masyarakatnya luar biasa:pelacuran, sex bebas, narkoba, miras de el el ada dimana-mana.
Sikap yang sama juga terjadi dalam bidang kesehatan. Para ahli medis (dokter, dkk) amat gencar mengkampayekan vaksin. Ketika banyak masyarakat yang sudah tahu bahaya vaksin dan menawari dokter obat alternatif yang aman selalau jawabannya adalah itu melanggar kode etik profesi (padahal banyak juga sales perusahaan farmasi yang memberi iming-iming dokter mobil atau rumah untuk meresepkan produknya lho). Ya maklum saja, para dokter lebih takut kode etik profesinya yang diadopsi dari barat dari pada kesehatan manusia (pasienya).
Masih banyak sikap-sikap westernisasi lainnya yang telah salah kaprah diambil oleh kaum intelektual indonesia. Mereka langsung mengambil dan take for granted segala ilmu pengetahuan yang berkembang di barat. Tapi apa lacur, barat sendiri banyak kebohongannya sebagaimana bohongnya penyokong terori darwin tentang asal usul manusia. Untuk itu masyarakat Indonesia harus hati-hati dan berusaha belajar mandiri. Modernitas tidak harus berarti westernisasi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar